Obat Generik Untuk Penyakit Lupus

Obat Generik Untuk Penyakit Lupus. Penyakit Lupus adalah salah satu bentuk penyakit autoimun, artinya sistem kekabalan tubuh (imun) malah menyerang sel-sel, jaringan dan organ sehat tubuh itu sendiri yang terjadi terus menerus sehingga menimbulkan peradangan kronis. Dengan kata lain Penyakit lupus diartikan sebagai penyakit peradangan kronis autoimun. Peradangan yang disebabkan oleh lupus dapat mempengaruhi banyak sistem tubuh diantaranya: sendi, kulit, ginjal, sel darah, otak, jantung dan paru-paru sehingga menimbulkan banyak sekali gejala atau manifestasi klinis yang beragam.

Oleh karena itu Penyakit Lupus ini sulit dideteksi karena tanda-tanda dan gejala sering kali mirip dengan penyakit lain. Namun demikian tanda dan gejala penyakit lupus yang paling khas adalah ruam wajah yang menyerupai sayap kupu-kupu (ruam di kedua pipi) disebut juga sebagai malar rash. Beberapa orang dilahirkan dengan kecenderungan mengembangkan penyakit lupus, yang mungkin dipicu oleh infeksi, obat lupus tertentu atau bahkan sinar matahari. Meskipun tidak ada obat definitif untuk menyembuhkan penyakit lupus, namun usaha pengobatan dapat membantu mengendalikan gejala penyakit lupus yang timbul.

Dibawah ini adalah beberapa macam obat generik untuk penyakit lupus:

  1. Obat imunosupresan

Cara kerja obat ini adalah dengan menekan kinerja sistem kekebalan tubuh. Ada beberapa jenis imunosupresan yang biasanya diberikan dengan resep dokter, yaitu azathioprine, mycophenolate mofetil, dan cyclophosphamide.

Imunosupresan akan meringankan gejala SLE dengan membatasi kerusakan pada bagian-bagian tubuh yang sehat akibat serangan sistem kekebalan tubuh. Obat ini juga terkadang diberikan bersamaan dengan kortikosteroid.

Jika dikombinasikan, keduanya dapat meringankan gejala SLE dengan lebih efektif. Penggunaan imunosupresan juga kemungkinan dapat mengurangi dosis kortikosteroid yang dibutuhkan penderita.

Imunosupresan termasuk obat yang sangat keras dan dapat menyebabkan efek samping sebagai berikut:

– Diare.

– Muntah.

– Berjerawat.

– Sakit kepala.

– Kejang-kejang.

– Pembengkakan gusi.

– Kehilangan nafsu makan.

– Bertambahnya berat badan.

– Mudah lebam atau berdarah.

– Pertumbuhan rambut berlebihan.

Karena itu, obat ini biasanya diberikan dengan resep dokter hanya untuk penderita SLE yang mengalami gejala atau serangan yang parah. Segera konsultasikan kepada dokter jika ada efek samping yang terasa lebih mengganggu daripada manfaatnya. Dosis Anda mungkin perlu disesuaikan.

Tiap jenis imunosupresan menyebabkan efek samping yang berbeda-beda. Misalnya, mycophenolate dan cyclophosphamide dapat menyebabkan cacat lahir. Karena itu, penderita SLE wanita yang menggunakan kedua jenis obat ini dan aktif secara seksual dianjurkan untuk menggunakan alat kontrasepsi yang terjamin keampuhannya.

Bagi penderita SLE wanita yang berniat untuk punya anak, Anda dianjurkan untuk memilih obat lain (misalnya azathioprine). Anda juga dianjurkan untuk mengonsultasikannya terlebih dulu kepada dokter spesialis.

Kehamilan sebaiknya direncanakan pada saat gejala SLE Anda berkurang (masa remisi). Pemantauan saksama dari dokter spesialis serta dokter kandungan selama masa kehamilan berlangsung juga sangat penting.

Risiko terjadinya infeksi akan meningkat seiring dengan kinerja sistem kekebalan tubuh yang ditekan. Segera hubungi dokter jika Anda mengalami gejala infeksi karena Anda mungkin membutuhkan penanganan secepatnya untuk mencegah komplikasi yang serius.

Gejala infeksi terkadang mirip dengan serangan lupus dan meliputi:

– Serangan batuk yang disertai dahak atau napas terengah-engah.

– Sensasi terbakar yang terasa saat buang air kecil.

– Demam tinggi (38ÂșC atau lebih).

– Kencing darah (hematuria).

Hindarilah kontak dengan orang yang sedang mengalami infeksi seringan apa pun atau walau Anda sudah memiliki kekebalan tubuh terhadap infeksi tersebut, misalnya cacar air atau campak. Penularan tetap mungkin terjadi karena kinerja sistem kekebalan tubuh Anda sedang menurun karena ditekan oleh obat imunosupresan.

Imunosupresan juga dapat menyebabkan kerusakan pada hati. Karena itu, Anda membutuhkan pemeriksaan kesehatan dan tes darah secara rutin selama menggunakan imunosupresan.

  1. Hydroxychloroquine

Selain pernah digunakan untuk menangani malaria, obat ini juga efektif untuk mengobati beberapa gejala utama SLE. Di antaranya:

– Kelelahan

– Ruam pada kulit

– Nyeri sendi dan otot

Dokter spesialis umumnya menganjurkan konsumsi obat ini untuk jangka panjang bagi penderita SLE. Tujuannya adalah untuk:

– Mengendalikan gejala.

– Mencegah serangan yang parah.

– Mencegah perkembangan komplikasi yang lebih serius.

Keefektifan hydroxychloroquine biasa akan dirasakan penderita SLE setelah mengonsumsinya selama 1,5-3 bulan.

Tetapi semua obat tetap memiliki efek samping, termasuk hydroxychloroquine. Di antaranya adalah gangguan pencernaan, diare, sakit kepala, dan ruam pada kulit.

Obat ini juga memiliki efek samping lain yang lebih serius, tetapi sangat jarang terjadi. Contohnya, diperkirakan terdapat risiko 1:2000 di antara penderita SLE yang mengonsumsi obat ini yang mungkin mengalami kerusakan mata. Karena sangat jarang, pemeriksaan mata secara umum tidak diharuskan untuk semua penderita lupus yang mengonsumsi obat ini.

Segera konsultasikanlah kepada dokter jika Anda mengalami gangguan penglihatan selama mengonsumsi hydroxychloroquine.